Tag Archives: Bahasa Aceh

ACEH: Keberagaman Patut Dijaga

931202_447365032007320_1357771907_nSelasa siang (7 Mei 2013), seorang teman dengan wajah yang penuh semangat menghampiri saya. Dialah Yelli Sustarina, teman yang belakangan ini saya lihat sering posting tulisan tentang orang-orang yang tinggal di Aceh namun sulit untuk berbahasa Aceh: colourfulaceh.wordpress.com, di sinilah tempat di mana teman yang lebih akrab dikenal dengan nama Yelli menuangkan cerita itu. Pada kesempatan itu, Yelli minta tolong kepada saya untuk dibuatkan sebuah cerita tentang daerah tempat saya dilahirkan. Awalnya saya menolaknya, karena saya pikir cerita yang akan saya ceritakan tidak jauh beda dengan apa yang sudah pernah ia posting sebelumnya. Namun Yelli meyakinkan saya untuk bersedia membuat cerita ini. “Ya,” saya mengiyakan tawaran teman saya tersebut.

Ini masih tentang kota yang sama, daerah yang sama, dan bahasa yang sama. Itulah kota saya, Tapaktuan. Tapaktuan adalah ibukota dari kabupaten Aceh Selatan. Secara keseluruhan, Aceh Selatan merupakan sebuah daerah yang indah untuk saya. Bagaimana tidak, saya bisa melihat hijaunya pegunungan di sebelah kiri sembari menikmati indahnya laut yang biru di sebelah kanan saya. Itulah sedikit dari banyak suasana tentang daerah yang dikenal sebagai daerah penghasil buah pala tersebut. Continue reading ACEH: Keberagaman Patut Dijaga

Cerita Anak Suku Jamee terhadap Bahasa Aceh

“Walupun ambo ndak bisa bahaso Aceh, tapi ambo tetap urang Aceh, Ambo bangga dengan keberanggaman budayo ko dan ambo cinto budayo Aceh.”

Saya tinggal di Aceh, tapi saya kurang bisa berbahasa Aceh, karena saya tinggal di paling selatan provinsi Aceh, yaitu Aceh Selatan. Kami mempunyai bahasa sendiri, yaitu bahasa Jamee yang mirip dengan bahasa Minang.  Ketika saya melanjutkan kuliah ke Banda Aceh, ibu kota propinsi Aceh, tentunya bahasa yang kami gunakan sehari-hari tidak bisa digunakan disini, karena perbedaan bahasa ini saya terkadang sering ditertawakan oleh teman-teman yang fasih berbahasa Aceh. Untuk bisa terjadi komunikasi yang baik, maka saya menggunakan bahasa Indonesia. Namun terkadang saya sering mendapat ejekan “Masa’ orang Aceh tidak bisa berbahasa Aceh, percuma saja tinggal di Aceh tapi bahasa sendiri tidak dimengerti.”

Terkadang muncul rasa kesal mendengar kata-kata tersebut, walaupun maksud mereka cuma bercanda, tapi cukuplah meninggalkan bekas di hati. Lalu saya pun berpikir kenapa saya tidak bisa berbahasa Aceh tapi bahasa Indonesia bisa. Seharusnya sebagai orang Aceh tentunya bahasa kedua yang dipelajari setelah bahasa ibu adalah bahasa daerah. Tapi kenyataannnya hal itu terlangkahi dengan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia.

Sejak kecil bahasa yang pertama diperkenalkan kepada saya adalah bahasa Jamee, dan saat masuk ke sekolah taman kanak-kanak, saya diperkenalkan dengan bahasa kedua, yaitu bahasa Indonesia. Kedua, bahasa inilah yang sering digunakan untuk berkomunikasi dalam kesaharian. Kemudian bagaimana dengan bahasa Aceh? Kami tidak pernah tahu dengan bahasa Aceh karena kami tidak pernah diajarkan, baik itu di sekolah maupun di lingkungan rumah. Continue reading Cerita Anak Suku Jamee terhadap Bahasa Aceh