Tag Archives: Aceh

Isin Ulo/Isin Haloban

(Foto: de-ab.blogspot.com)
(Foto: de-ab.blogspot.com)

Saya tinggal di Aceh, tapi saya tidak bisa berbahasa Aceh, karena saya tinggal di daerah kepulauan yang ada di Aceh, yakni “Pulau Banyak Barat”, tepatnya di Haloban. Di Haloban, kami mempunyai bahasa sendiri, bahasa Devayan yang hampir sama dengan bahasa Simelue, dan kami juga menggunakan bahasa Jame. Ketika saya melanjutkan kuliah ke Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh, tentunya bahasa yang digunakan adalah bahasa Aceh jadi bahasa yang biasa saya gunakan sehari-hari sudah barang tentu tidak bisa digunakan di Banda Aceh ini. Karena itulah orang-orang yang bisa bahasa Aceh agak sedikit merendahkan kami yang tidak bisa Berbahasa Aceh. Karena saya tidak bisa berbahasa Aceh, saya menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang lain. Namun terkadang dalam keseharian, saya sering diajak berbahasa Aceh, lalu saya mencoba untuk mengatakan kalau saya tidak bisa berbahasa Aceh. Tapi saya sering mendapat ungkapan dari orang-orang yang bisa berbahasa Aceh kurang lebih seperti ini, “Masa’ tinggal di Aceh tidak bisa berbahasa Aceh.” Lalu saya menjawab, “Di Aceh ini bukan hanya ada Banda Aceh dan Aceh besar, tetapi asih ada lagi daerah lain yang tidak menggunakan bahasa Aceh, dan di Aceh ini bukan hanya ada satu suku, tetapi masih ada banyak suku yang lain.”

Bahasa itu bukanlah hal membedakan satu dengan yang lainnya. Saya tidak merasa bersalah karena saya tidak bisa berbahasa Aceh. Karena selama ini Saya belum pernah tinggal disekeliling orang yang menggunakan bahasa Aceh dan saya belum pernah mendapat pelajaran tentang bahasa Aceh itu sendiri. Selain tempat saya dilahirkan tidak menggunakan bahasa Aceh, saya juga dibesarkan di daerah Tapanuli Tengah, jadi wajar saja jika saya tidak bisa bahasa Aceh. Dan saya bangga dengan bahasa yang saya gunakan, karena itu adalah bahagian dari kebudayaan yang ada di Aceh ini.

Bagaimanapun dan apaupaun alasannya, saya tetap orang Aceh dan saya bangga menjadi orang Aceh, walaupun saya tidak bisa berbahasa Aceh, tapi itu tidak jadi penghalang untuk mencintai daerah Aceh ini. Karena Aceh terdiri dari bermacam ragam budaya dan suku serta Aceh memiliki banyak bahasa. Seharusnya dengan beragamnya bahasa tersebut kita bisa bangga, Karena dengan keberagamman ini Aceh terlihat lebih indah dan lebih berwarna. “Deo waon U ila bahaso Aceh, tapi Deo tatap isin Aceh dan waon sakho senga dei marubah ne, karno Aceh era tanah kelahiran O.”


Penulis: Susi Sulastri Nst (Isin Haloban)
Editor: Yelli Sustarina

ACEH: Keberagaman Patut Dijaga

931202_447365032007320_1357771907_nSelasa siang (7 Mei 2013), seorang teman dengan wajah yang penuh semangat menghampiri saya. Dialah Yelli Sustarina, teman yang belakangan ini saya lihat sering posting tulisan tentang orang-orang yang tinggal di Aceh namun sulit untuk berbahasa Aceh: colourfulaceh.wordpress.com, di sinilah tempat di mana teman yang lebih akrab dikenal dengan nama Yelli menuangkan cerita itu. Pada kesempatan itu, Yelli minta tolong kepada saya untuk dibuatkan sebuah cerita tentang daerah tempat saya dilahirkan. Awalnya saya menolaknya, karena saya pikir cerita yang akan saya ceritakan tidak jauh beda dengan apa yang sudah pernah ia posting sebelumnya. Namun Yelli meyakinkan saya untuk bersedia membuat cerita ini. “Ya,” saya mengiyakan tawaran teman saya tersebut.

Ini masih tentang kota yang sama, daerah yang sama, dan bahasa yang sama. Itulah kota saya, Tapaktuan. Tapaktuan adalah ibukota dari kabupaten Aceh Selatan. Secara keseluruhan, Aceh Selatan merupakan sebuah daerah yang indah untuk saya. Bagaimana tidak, saya bisa melihat hijaunya pegunungan di sebelah kiri sembari menikmati indahnya laut yang biru di sebelah kanan saya. Itulah sedikit dari banyak suasana tentang daerah yang dikenal sebagai daerah penghasil buah pala tersebut. Continue reading ACEH: Keberagaman Patut Dijaga

Orang Singkil

603704_447135242030299_1445865417_nSaya asli anak Aceh Singkil, tapi saya tidak bisa berbahasa Aceh karena kami mempunyai bahasa sendiri, yaitu bahasa Singkil. Meskipun bahasa Singkil berkerabat dengan bahasa Pakpak di propinsi Sumatera Utara, namun kami memiliki adat dan budaya yang jauh berbeda dengan Suku Pakpak. Hal ini dikarenakan suku Singkil menganut agama Islam sedangkan suku Pakpak mayoritas memeluk agama Kristen. Selain itu suku Singkil lebih banyak bercampur dengan etnis-etnis tetangga, seperti suku Aceh dan Minang.

Saya sendiri menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Minang dalam berkomunikasi, namun terdapat bahasa lain yang ada di Singkil seperti bahasa Pakpak. Saat ini, saya sedang melanjutkan sekolah di salah satu perguruan tinggi di Aceh, yaitu UNSYIAH (Universitas Syiah Kuala), dan saya kuliah di jurusan PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan), tentunya bahasa singkil yang saya gunakan sehari-hari tidak bisa digunakan di sini, sehingga saya harus menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

Di kampus saya, tentunya terdapat orang-orang yang berasal dari berbagai macam daerah, tetapi lebih dominan orang Aceh. Sering mereka bertanya “Kenapa saya tidak bisa berbahasa Aceh, sedangkan saya tinggal di Aceh.” Walaupun Saya jelaskan panjang lebar bahwa saya mempunyai bahasa sendiri, dan di sekitar tempat tiggal saya tidak ada suku Aceh asli, tetap saja mereka mengatakan, “Tapi kan kamu tinggalnya di Aceh, masa’ bahasa Aceh saja tidak bisa.” Memang kesal ketika orang berbicara seperti itu apa lagi ketika dosen mengajar terkadang mencampurkan dengan bahasa Aceh, yang membuat saya hanya bisa mematung alias tidak mengerti. Continue reading Orang Singkil

Kita di Bawah Payung yang Sama

Tak kenal makanya tak sayang…

Syair ini sering terdengar mengaung seantero Nusantara dan dijadikan lagu salam perkenalan dalam sebuah perjumpaan. Lewat sebuah perjumpaanlah terjadi perkenalan dan saling bercerita tentang kekurangan dan kelebihan masing-masing hingga kemudian benih-benih keakraban muncul dan berbuah kasih sayang.

Nah, berbicara tentang perkenalan, sebuah pertanyaan muncul dari benak saya, apakah kita benar-benar mengenal Aceh dan menyayanginya? Atau ia hanya sebuah nama yang hanya kita sebut-sebut namanya saja tanpa kita kenali latar belakang dan sejarahnya?

Lewat tulisan ini, saya mengajak para sahabat untuk mengenal Aceh lebih dalam, terutama berkaitan dengan budaya dan suku-suku di dalamnya. Continue reading Kita di Bawah Payung yang Sama

Cerita Anak Subulussalam

946394_445462522197571_702046399_nWalupeh aku odak bisak bahasa Aceh, aku tetap kalak Aceh, Aku bangga dgn bekhagam na budaya en, dan aku sukak budaya Aceh.

Saya tidak bisa berbahasa Aceh karena saya bukan asli suku Aceh, tapi suku campuran batak, yaitu pak-pak. Kami memiliki bahasa daerah tersendiri dan orang-orang Subulussalam menyebutnya dengan bahasa “kade-kade.” Ketika duduk di bangku SMP ada mata pelajaran bahasa Aceh tetapi hanya berlangsung satu semester dan terbatas pada kata-kata dasar dan penulisan dalam bahasa Aceh seperti penggunaan “eu” dan sebagainya.

Saat belajar bahasa Aceh terasa sedikit sulit karena pengucapannya harus fasih tetapi seiring berjalannya waktu terasa lebih mudah dikarenakan bahasa Aceh dan bahasa kade-kade penekanannya sama-sama di kerongkongan. Lambat laun saya mengerti kata demi kata dalam bahasa Aceh tetapi sangat sedikit bahkan bisa di hitung berapa banyak kata yang tahu bahasa Aceh nya dan tetap saja saya tidak bisa berbahasa Aceh.

Ketika saya kuliah di perguruan tinggi Aceh, bahasa yang digunakan sebagai komunikasi yaitu bahasa Aceh dan sebagai orang yang tidak bisa berbahasa Aceh saya menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi. Tetapi kerap kali orang mengatakan “Kenapa tidak bisa bahasa Aceh? Sebenarnya orang mana? Seharusnya orang Aceh bisa bahasa Aceh.” Dan dengan spontan saya menjawab, “Di Aceh bukan hanya ada bahasa Aceh, tetapi ada bahasa lain yang menyertai bahasa Aceh itu sendiri. Karena Aceh terdiri dari berbagai macam suku, saya memang orang Aceh tetapi saya bukan suku Aceh dan kami memiliki bahasa daerah tersendiri.” Continue reading Cerita Anak Subulussalam

Khang Alas Pake Bahase Alas

166030_444373515639805_1371007071_nWalupe mlet ku ukhok bahase Aceh, tatap aku nde khang Aceh, Aku bangge tebeken kebekhagamen nde, aku cinte Aceh.

Aceh Tenggara adalah tempat tinggal dan asal saya. Dua generasi dari keturunan saya menetap di daerah ini. Saya merasa bahwa Aceh Tenggara merupakan tempat warisan alam yang banyak mengandung potensi alam. Pegunungan Bukit Barisan yang telah menjadi daerah Cagar Alam Nasional menjadi daya tarik tersendiri di daerah kami. Aceh Tenggara terletak di paling ujung dan paling jauh jaraknya dari pusat kota Banda Aceh. Bahasa yang digunakan disini adalah bahasa Alas dan Batak.

Saya sangat bangga dengan asal saya, karena saya merasa Aceh Tenggara adalah salah satu bagian dari Aceh selain kota Banda Aceh. Dulunya saya beranggapan bahwa Aceh itu cuman ada dua yaitu Aceh Tenggara dan Kota Banda Aceh. Setelah saya masuk sekolah, tepatnya di kelas 3 SD, saya baru mengetahui bahwa Aceh itu banyak dan beragam serta bahasa yang digunakan ternyata juga berbeda. Saya menyadari bahwa saya sangat jauh ketinggalan dalam hal bahasa khususnya bahasa Aceh, sebagai bahasa mayoritas suku Aceh pada umumnya. Continue reading Khang Alas Pake Bahase Alas

Kami Urang Gayo

1Aceh, siapa yang tidak pernah mendengar kata ini. Yaitu tentang sebuah daerah yang terletak di ujung barat Indonesia. Meski sempat bergonta-ganti nama, yang sepengetahuan saya awalnya bernama Daerah Istimewa Aceh, kemudian berganti menjadi Nanggroe Aceh Darussalam, dan sekarang menjadi Pemerintahan Aceh, rasa cinta saya tetap tidak pernah pudar pada daerah ini. Karena daerah ini adalah daerah kelahiran saya.
Bagi orang yang berasal dari daerah lain di Indonesia, misalnya Medan, Jakarta, Makasar, Jayapura, dan lain-lainya, mungkin akan berpikir bahwa Aceh itu, ya, Aceh. Mereka tidak tahu bahwa Aceh itu terbagi lagi ke dalam 14 suku yang berbeda. Tentunya berbeda dalam budaya, kesenian, pakaian adat, dan yang mungkin paling vital adalah perbedaan bahasa. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa suku Aceh adalah suku yang mayoritas, karena secara matematis suku Aceh lebih banyak jumlahnya dibanding suku lainnya seperti suku Gayo, Jame, Alas, dan lain sebagainya. Dan dalam penggunaan bahasa juga mungkin bahasa Aceh bisa dianggap bahasa yang paling banyak digunakan. Meskipun demikian, bukan berarti kita bisa “meng-anak tirikan” bahasa dari suku lainnya di Aceh.

Saya sendiri adalah orang Gayo asli, kedua orang tua saya adalah orang Gayo, dan sejak kecil bahasa yang diperkenalkan kepada saya adalah bahasa Gayo dan bahasa Indonesia. Dan di daerah saya di Takengon jarang sekali bahasa Aceh itu digunakan. Mungkin kami hanya sekali-sekali mendengarkan orang Aceh yang merantau di sana untuk berdagang yang berbicara menggunakan bahasa Aceh. Oleh karena itu, jarang sekali rasanya orang Gayo yang bisa berbahasa Aceh. Continue reading Kami Urang Gayo

Cerita Anak Suku Jamee terhadap Bahasa Aceh

“Walupun ambo ndak bisa bahaso Aceh, tapi ambo tetap urang Aceh, Ambo bangga dengan keberanggaman budayo ko dan ambo cinto budayo Aceh.”

Saya tinggal di Aceh, tapi saya kurang bisa berbahasa Aceh, karena saya tinggal di paling selatan provinsi Aceh, yaitu Aceh Selatan. Kami mempunyai bahasa sendiri, yaitu bahasa Jamee yang mirip dengan bahasa Minang.  Ketika saya melanjutkan kuliah ke Banda Aceh, ibu kota propinsi Aceh, tentunya bahasa yang kami gunakan sehari-hari tidak bisa digunakan disini, karena perbedaan bahasa ini saya terkadang sering ditertawakan oleh teman-teman yang fasih berbahasa Aceh. Untuk bisa terjadi komunikasi yang baik, maka saya menggunakan bahasa Indonesia. Namun terkadang saya sering mendapat ejekan “Masa’ orang Aceh tidak bisa berbahasa Aceh, percuma saja tinggal di Aceh tapi bahasa sendiri tidak dimengerti.”

Terkadang muncul rasa kesal mendengar kata-kata tersebut, walaupun maksud mereka cuma bercanda, tapi cukuplah meninggalkan bekas di hati. Lalu saya pun berpikir kenapa saya tidak bisa berbahasa Aceh tapi bahasa Indonesia bisa. Seharusnya sebagai orang Aceh tentunya bahasa kedua yang dipelajari setelah bahasa ibu adalah bahasa daerah. Tapi kenyataannnya hal itu terlangkahi dengan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia.

Sejak kecil bahasa yang pertama diperkenalkan kepada saya adalah bahasa Jamee, dan saat masuk ke sekolah taman kanak-kanak, saya diperkenalkan dengan bahasa kedua, yaitu bahasa Indonesia. Kedua, bahasa inilah yang sering digunakan untuk berkomunikasi dalam kesaharian. Kemudian bagaimana dengan bahasa Aceh? Kami tidak pernah tahu dengan bahasa Aceh karena kami tidak pernah diajarkan, baik itu di sekolah maupun di lingkungan rumah. Continue reading Cerita Anak Suku Jamee terhadap Bahasa Aceh