Cerita Anak Suku Jamee terhadap Bahasa Aceh

“Walupun ambo ndak bisa bahaso Aceh, tapi ambo tetap urang Aceh, Ambo bangga dengan keberanggaman budayo ko dan ambo cinto budayo Aceh.”

Saya tinggal di Aceh, tapi saya kurang bisa berbahasa Aceh, karena saya tinggal di paling selatan provinsi Aceh, yaitu Aceh Selatan. Kami mempunyai bahasa sendiri, yaitu bahasa Jamee yang mirip dengan bahasa Minang.  Ketika saya melanjutkan kuliah ke Banda Aceh, ibu kota propinsi Aceh, tentunya bahasa yang kami gunakan sehari-hari tidak bisa digunakan disini, karena perbedaan bahasa ini saya terkadang sering ditertawakan oleh teman-teman yang fasih berbahasa Aceh. Untuk bisa terjadi komunikasi yang baik, maka saya menggunakan bahasa Indonesia. Namun terkadang saya sering mendapat ejekan “Masa’ orang Aceh tidak bisa berbahasa Aceh, percuma saja tinggal di Aceh tapi bahasa sendiri tidak dimengerti.”

Terkadang muncul rasa kesal mendengar kata-kata tersebut, walaupun maksud mereka cuma bercanda, tapi cukuplah meninggalkan bekas di hati. Lalu saya pun berpikir kenapa saya tidak bisa berbahasa Aceh tapi bahasa Indonesia bisa. Seharusnya sebagai orang Aceh tentunya bahasa kedua yang dipelajari setelah bahasa ibu adalah bahasa daerah. Tapi kenyataannnya hal itu terlangkahi dengan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia.

Sejak kecil bahasa yang pertama diperkenalkan kepada saya adalah bahasa Jamee, dan saat masuk ke sekolah taman kanak-kanak, saya diperkenalkan dengan bahasa kedua, yaitu bahasa Indonesia. Kedua, bahasa inilah yang sering digunakan untuk berkomunikasi dalam kesaharian. Kemudian bagaimana dengan bahasa Aceh? Kami tidak pernah tahu dengan bahasa Aceh karena kami tidak pernah diajarkan, baik itu di sekolah maupun di lingkungan rumah. Continue reading Cerita Anak Suku Jamee terhadap Bahasa Aceh