Orang Singkil

603704_447135242030299_1445865417_nSaya asli anak Aceh Singkil, tapi saya tidak bisa berbahasa Aceh karena kami mempunyai bahasa sendiri, yaitu bahasa Singkil. Meskipun bahasa Singkil berkerabat dengan bahasa Pakpak di propinsi Sumatera Utara, namun kami memiliki adat dan budaya yang jauh berbeda dengan Suku Pakpak. Hal ini dikarenakan suku Singkil menganut agama Islam sedangkan suku Pakpak mayoritas memeluk agama Kristen. Selain itu suku Singkil lebih banyak bercampur dengan etnis-etnis tetangga, seperti suku Aceh dan Minang.

Saya sendiri menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Minang dalam berkomunikasi, namun terdapat bahasa lain yang ada di Singkil seperti bahasa Pakpak. Saat ini, saya sedang melanjutkan sekolah di salah satu perguruan tinggi di Aceh, yaitu UNSYIAH (Universitas Syiah Kuala), dan saya kuliah di jurusan PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan), tentunya bahasa singkil yang saya gunakan sehari-hari tidak bisa digunakan di sini, sehingga saya harus menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

Di kampus saya, tentunya terdapat orang-orang yang berasal dari berbagai macam daerah, tetapi lebih dominan orang Aceh. Sering mereka bertanya “Kenapa saya tidak bisa berbahasa Aceh, sedangkan saya tinggal di Aceh.” Walaupun Saya jelaskan panjang lebar bahwa saya mempunyai bahasa sendiri, dan di sekitar tempat tiggal saya tidak ada suku Aceh asli, tetap saja mereka mengatakan, “Tapi kan kamu tinggalnya di Aceh, masa’ bahasa Aceh saja tidak bisa.” Memang kesal ketika orang berbicara seperti itu apa lagi ketika dosen mengajar terkadang mencampurkan dengan bahasa Aceh, yang membuat saya hanya bisa mematung alias tidak mengerti.

Sejak kecil, saya diajarkan bahasa singkil, dan saat masuk SD baru belajar bahasa kedua yaitu bahasa indonesia, SMP baru saya sedikit belajar bahasa Aceh, tapi tetap juga tidak bisa. Di lingkungan tempat tinggal saya tidak ada orang Aceh, jadi sangat susah jika kita ingin bisa berbahasa Aceh, karena praktik lebih mudah kita pahami daripada teori.

Terkadang timbul keinginan saya untuk mempelajari atau bisa mempraktekkan bahasa Aceh, tapi terasa sangat begitu sulit. Hal ini dikarenakan dialek yang kami gunakan sangat berbeda dengan bahasa Aceh. Bahasa Aceh yang aksennya lebih berdesis dan penekanan lebih ke kerongkongan susah untuk kami tiru. Apalagi ketika saya mempraktekkan bahasa Aceh, malah saya jadi bahan tertawaan.

Begitulah cerita saya mengenai perbedaan bahasa ini. Saya akan terus mencoba untuk mempelajari bahasa Aceh dengan baik dan benar. Walaupun susah untuk mempelajarinya, saya yakin, bahwa saya pasti akan bisa berbahasa Aceh, karena saya juga merupakan bagian dari tanoh Aceh ini. “Walupun ambo indak bisa bahaso Aceh, tapi ambo tatap orang Aceh, Ambo bangga bana samo macam-macam budaya ko dan ambo cinta juo samo budaya Aceh.


Penulis: Nurul Halimah (Urang Singkil)
Editor: Yelli Sustarina

About Rachmat

Akun Gravatar Rachmat • Pengguna Windows & penyuka permainan FSX • Suka naik kereta api • Penggemar Person of Interest.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s