Cerita Anak Subulussalam

946394_445462522197571_702046399_nWalupeh aku odak bisak bahasa Aceh, aku tetap kalak Aceh, Aku bangga dgn bekhagam na budaya en, dan aku sukak budaya Aceh.

Saya tidak bisa berbahasa Aceh karena saya bukan asli suku Aceh, tapi suku campuran batak, yaitu pak-pak. Kami memiliki bahasa daerah tersendiri dan orang-orang Subulussalam menyebutnya dengan bahasa “kade-kade.” Ketika duduk di bangku SMP ada mata pelajaran bahasa Aceh tetapi hanya berlangsung satu semester dan terbatas pada kata-kata dasar dan penulisan dalam bahasa Aceh seperti penggunaan “eu” dan sebagainya.

Saat belajar bahasa Aceh terasa sedikit sulit karena pengucapannya harus fasih tetapi seiring berjalannya waktu terasa lebih mudah dikarenakan bahasa Aceh dan bahasa kade-kade penekanannya sama-sama di kerongkongan. Lambat laun saya mengerti kata demi kata dalam bahasa Aceh tetapi sangat sedikit bahkan bisa di hitung berapa banyak kata yang tahu bahasa Aceh nya dan tetap saja saya tidak bisa berbahasa Aceh.

Ketika saya kuliah di perguruan tinggi Aceh, bahasa yang digunakan sebagai komunikasi yaitu bahasa Aceh dan sebagai orang yang tidak bisa berbahasa Aceh saya menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi. Tetapi kerap kali orang mengatakan “Kenapa tidak bisa bahasa Aceh? Sebenarnya orang mana? Seharusnya orang Aceh bisa bahasa Aceh.” Dan dengan spontan saya menjawab, “Di Aceh bukan hanya ada bahasa Aceh, tetapi ada bahasa lain yang menyertai bahasa Aceh itu sendiri. Karena Aceh terdiri dari berbagai macam suku, saya memang orang Aceh tetapi saya bukan suku Aceh dan kami memiliki bahasa daerah tersendiri.”

Terkadang muncul rasa sedih di hati mendengar ungkapan-ungkapan yang kesannya mengejek, bagaimanapun sebenarnya kami tetaplah orang Aceh karena tanah lahir kami merupakan bagian dari Aceh. Ketidaktahuan kami menggunakan bahasa Aceh dikarenakan sebagian besar penduduk Subulussalam menggunakan bahasa kade-kade dalam komunikasi sehari-hari yang merupakan bahasa khas daerah, walaupun ada yang menggunakan bahasa Aceh hanya sebagian kecil di bandingkan dengan bahasa kade-kade.

Banyaknya suku di Aceh merupakan kebanggaan tersendiri karena perbedaan itu indah. Bukan hanya berbeda dari segi bahasa tetapi juga dari segi kehidupan sosial, adat istiadat dan lain sebagainya. Saya menyadari bahwa, “Walupeh aku odak bisak bahasa Aceh, aku tetap kalak Aceh, Aku bangga dgn bekhagam na budaya en, dan aku sukak budaya Aceh.”


Penulis: Najhin Nura
Editor: Yelli Sustarina

About Rachmat

Akun Gravatar Rachmat • Pengguna Windows & penyuka permainan FSX • Suka naik kereta api • Penggemar Person of Interest.

1 thought on “Cerita Anak Subulussalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s