Kami Urang Gayo

1Aceh, siapa yang tidak pernah mendengar kata ini. Yaitu tentang sebuah daerah yang terletak di ujung barat Indonesia. Meski sempat bergonta-ganti nama, yang sepengetahuan saya awalnya bernama Daerah Istimewa Aceh, kemudian berganti menjadi Nanggroe Aceh Darussalam, dan sekarang menjadi Pemerintahan Aceh, rasa cinta saya tetap tidak pernah pudar pada daerah ini. Karena daerah ini adalah daerah kelahiran saya.
Bagi orang yang berasal dari daerah lain di Indonesia, misalnya Medan, Jakarta, Makasar, Jayapura, dan lain-lainya, mungkin akan berpikir bahwa Aceh itu, ya, Aceh. Mereka tidak tahu bahwa Aceh itu terbagi lagi ke dalam 14 suku yang berbeda. Tentunya berbeda dalam budaya, kesenian, pakaian adat, dan yang mungkin paling vital adalah perbedaan bahasa. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa suku Aceh adalah suku yang mayoritas, karena secara matematis suku Aceh lebih banyak jumlahnya dibanding suku lainnya seperti suku Gayo, Jame, Alas, dan lain sebagainya. Dan dalam penggunaan bahasa juga mungkin bahasa Aceh bisa dianggap bahasa yang paling banyak digunakan. Meskipun demikian, bukan berarti kita bisa “meng-anak tirikan” bahasa dari suku lainnya di Aceh.

Saya sendiri adalah orang Gayo asli, kedua orang tua saya adalah orang Gayo, dan sejak kecil bahasa yang diperkenalkan kepada saya adalah bahasa Gayo dan bahasa Indonesia. Dan di daerah saya di Takengon jarang sekali bahasa Aceh itu digunakan. Mungkin kami hanya sekali-sekali mendengarkan orang Aceh yang merantau di sana untuk berdagang yang berbicara menggunakan bahasa Aceh. Oleh karena itu, jarang sekali rasanya orang Gayo yang bisa berbahasa Aceh.

Pada awalnya, segala perbedaan yang saya ceritakan di atas tidaklah menjadi suatu permasalahan. Namun pada suatu waktu, tepatnya ketika saya pertama kali merantau ke Banda Aceh untuk kuliah, saya mendapatkan pengalaman yang menurut saya agak aneh terkait dengan bahasa.

Singkatnya waktu itu saya sedang berinteraksi dengan seorang lelaki paruh baya yang berjualan di pinggir jalan. Dia berbicara kepada saya dengan menggunakan bahasa Aceh, tentu saja saya bingung harus menjawab apa karena memang saya tidak bisa berbahasa Aceh, belum lagi orang Aceh berbicaranya lumayan cepat sehingga sangat sulit rasanya untuk menyimak apa yang mereka ucapkan. Dengan segala keterbatasan saya, saya hanya bisa menjawab, “Maaf pak, saya tidak bisa bahasa Aceh”, sambil tersenyum kecil. Kemudian lelaki itu menjawab “Aduh, bagaimana kamu ini, masak orang Aceh tidak bisa bahasa Aceh, kalau tinggal di Aceh harus bisa lah bahasa Aceh”.

Lagi-lagi saya hanya tersenyum menanggapi perkataan lelaki itu, saya tidak mau menanggapinya terlalu jauh karena pada saat itu saya memiliki kegiatan yang lainnya. Namun sejak saat itu, saya jadi selalu teringat-ingat kepada perkataan lelaki itu, dan juga membuat saya bertanya-tanya di dalam hati. Kenapa, ya, bapak itu berbicara seperti itu? Apa dia tidak tahu ya bahwa ada banyak suku di Aceh selain suku Aceh? Ah, tidak mungkin rasanya bapak itu tidak tau. Atau bapak itu hanya bercanda? Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang terus menerus lalu lalang dipikiran saya.

Sekilas mungkin, kalimat lelaki itu bukanlah sebuah permasalahan. Namun jika kita kaji lebih mendalam, menurut saya itu bisa menjadi suatu hal yang keliru ke depannya. Karena di Aceh ini bukanlah hanya ada bahasa Aceh saja, namun ada beberapa bahasa lainnya yang harus kita pertimbangkan juga keberadaannya.

Sejak kecil, hal yang paling saya banggakan dari Indonesia ini adalah keberagamannya. Ragam budaya, ragam bahasa, kesenian dan lain sebagainya. Lain daerah maka lain lagi kebudayaannya. Menurut pemikiran saya pada saat itu (pemikiran anak SD), hal itu lah yang patut kita banggakan, karena negara lain tidak ada yang demikian, kalaupun ada maka tidak sekaya negara kita kebudayaannya.

Namun akhir-akhir ini keberagaman itu rasanya tidak indah lagi, malah sepertinya menjadi sebuah polemik. Ayolah teman-teman, kenapa kita seolah-olah menghilangkan indahnya keberagaman yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Bahkan kalau perlu, kita hapus saja kata-kata mayoritas dan minoritas. Karena kata-kata itu seolah mengkotak-kotakkan kita.

Kami orang Gayo ini adalah orang Aceh juga, jika ditinjau secara geografis. Namun secara etnis dan budaya kami tetaplah orang Gayo. Perbedaan itu bukanlah suatu permasalahan seharusnya, toh dari dulu kita bisa hidup damai dengan saling menghargai satu sama lain. Dan rasanya akan lebih baik kalau kita kaya akan budaya, kaya akan bahasa dibandingkan hanya dengan mengakui satu budaya dan satu bahasa saja.

Mari kita jadikan kebudayaan menjadi sebuah kebanggaan, bukan menjadi alat yang justru menimbulkan sebuah polemik yang berkepanjangan. “Walupe aku gere pas becerek wan bahasa Aceh, cumen kami pe le urang Gayo, Aku bangga ken keberagaman budaya nte ni.”


Penulis: Hamdeska Ranggayo, mahasiswa PSIK Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
Editor: Yelli Sustarina

About Rachmat

Akun Gravatar Rachmat • Pengguna Windows & penyuka permainan FSX • Suka naik kereta api • Penggemar Person of Interest.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s